Rumah Makalah

Welcome to My Blog

Rumah Makalah

Hope My posts are beneficial

Rumah Makalah

Leave Comment, criticize me!

Rumah Makalah

I have to make improvement

Rumah Makalah

Anyway, Thanks for Visiting

Saturday, 14 March 2015

MAKALAH JUAL BELI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam menjalani kehidupan di dunia tidak terlepas dari yang namanya ekonomi. Ekonomi merupakan kegiatan yang berkaitan dengan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Hal itu pun diatur dalam Islam, yang mana dalam setiap kegiatannya tidak terlepas dari aturan Islam khususnya dalam hal jual beli.
Imam-imam Mazhab pun membahas permasalahan ekonomi, khususnya dalam hal jual beli di dalam ajaran dan kitab-kitab yang mereka buat. Hal itu juga tidak terlepas dari perbedaan pendapat dari masing-masing Imam. Untuk itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang perbandingan Imam Mazhab tentang permasalahan dalam jual beli.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian jual beli?
2.      Apa rukun dan syarat jual beli?
3.      Apa dalil tentang jual beli?
4.      Bagaimana munaqasyah dalil tentang jual beli?
5.      Apa akibat dan manfaat dari jual beli?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mahasiswa/i dapat mengetahui pengertian jual beli.
2.      Mahasiswa/i dapat mengetahui rukun dan syarat jual beli.
3.      Mahasiswa/i dapat mengetahui dalil tentang jual beli.
4.      Mahasiswa/i dapat mengetahui munaqasyah dalil tentang jual beli.
5.      Mahasiswa/i dapat mengetahui akibat dan manfaat dari jual beli.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Jual Beli
هُوَ ـ لُغَةً ـ :  مقا بلة شئ بشئ . وشر عا : مقا بلة مل بما ل على وجه مخصوص.
Menurut arti bahasanya, jual beli adalah menukarkan sesuatu dengan sesuatu. Sedangkan menurut syara’ (istilah) jual beli adalah menukarkan harta dengan harta pada majelis tertentu.[1]
·         Menurut Imam Hanafi pengertian jual beli di bagi menjadi dua, yaitu umum dan khusus:
Secara khusus:
ومن هذ ا يتضح لك ان تعر يف البيع با لمعني الخا ص : وهو مبا د لة السلعة با لنقد على وجة مخصو ص .
Jual beli adalah mengganti benda dengan uang dengan cara-cara yang dikhususkan

Secara Umum:
واما تعر يفه با لمعنى العا م : فهو مبا د لة الما ل با لما ل على وجه مخصوص.
Jual beli adalah menggantikan harta dengan harta dengan cara-cara yang dikhususkan”

·         Menurut Imam Maliki pengertian jual beli di bagi menjadi dua, yaitu umum dan khusus:
Secara khusus:
اما تعر يفه با لمعنى الا خص : فهو عقد معا و ضة على غير منا فع و لا متعة لذ ة .
jual beli adalah aqad mu’awadhah (akad yang meliputi di atas benda dari kedua belah pihak/timbal balik) bukan hanya untuk mengambil manfaat dan nikmatnya saja.
Secara khusus:
“Jual beli ( البيع ) yang hanya termaksud di dalam jual beli”

Secara umum:
فا ما تعر يفه با لمعنى الا عم فهو عقد معا و ضة على غير منا فع ولا متعة لذ ة .
“jual beli adalah aqad mu’awadhah (timbal balik antara penjual dan pembeli) bukan hanya untuk mengambil manfaat dan nikmatnya saja dari benda tersebut.”

·         Menurut Imam Hanbali.
معنى البيع فى الشر ع :مبا د لة ما ل بما ل ,او مبا دلة منفعة مبا حة بمنفعة مبا حة على التا بيد غير ربا وقر ض .
“Jual beli adalah mengganti harta dengan harta dalam satu majelis atau mengganti manfaat dengan manfaat yang dibolehkan untuk selamanya dan tidak mengandung riba dan hutang.”

·         Menurut Imam Syafi’i.
البيع فى الشر ع مقا بلة ما ل بما ل على وجه مخصوص , اى عقد ذ و مقا بلة ما ل بما ل ... الخ .
Jual beli adalah menggantikan harta dengan harta dengan cara yang khusus.[2]

B.     Rukun dan Syarat Jual Beli
1.      Rukun Jual Beli ada tiga (3), yaitu:
a.       Shigat  (Ijab dan Qabul);
Jual beli sah dengan adanya ijab (pernyataan menjual) dari penjual dengan kata-kata yang jelas. Misalnya, “Saya menjual barang ini kepadamu dengan harga sekian” atau barang ini untukmu dengan harga sekian”. Juga dengan adanya qabul (persetujuan membeli) dari pembeli yang menyatakan menerima kepemilikan secara jelas. Misalnya, “Barang ini saya beli dengan harga sekian” atau “Saya menerima/setuju/ mengambil/menerima pemilikan barang ini dengan harga sekian”.[3]
b.      Orang yang melakukan akad;
Orang yang melakukan akad adalah penjual yang menjual barang dagangannya dan pembeli yang akan membeli barang dagangannya.
c.       Ma’qud alaihi (barang dan uang).
Barang milik penjual dan tsaman (uang harga) milik pembeli; maka jual beli fudliliy (yaitu yang tidak punya hak atas barang yang diperjual belikan) adalah tidak sah.[4]

2.      Syarat jual beli
a.       Syarat Ijab dan Qabul:
-          Terdapat dalam satu majelis;
-          Dilakukan dengan kesepakatan yang sama;
-          Tidak tergantung pada suatu kejadian;
-          Tidak di batasi oleh waktu.[5]

b.      Syarat penjual dan pembeli
Secara umum ada 4, yaitu:
-          Berakal
-          Dengan kehendak sendiri
-          Tidak mubazir
-          Baligh[6]

c.       Syarat benda dan uang.
-          Suci
 )ئمنها ان يمكو ن طا هر ا فلا يصح ان يكو ن النجس مبيعا و لا ثمنا (
Barang najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk dibelikan.
-          Dapat diambil manfaat.
 )و منها ان يكون منتفعا به انتفا عا شر عيا فلا ينعقد بيع الحشر ات التى لا نفع فيها (
Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Dilarang pula mengambil tukarannya karena hal itu termasukdalam arti menyia-nyiakan
-          Barang milik si penjual
 ( و منها ان يكو ن المبيع مملو كا للبا ئع حا ل البيع(
-          Barang yang dijual harus diketahui oleh si penjual dan si pembeli.
 ) و منها ان يكو ن مقدو ورا على تسليمة (
-          Barang itu dapat diserahkan.
 )ان يكون المبيع معلو ما و الثمن معلو ما علما يمنع من المنا زعة (
Tidak sah menjual suatu barang yang tidak dapat diserahkan kepada yang membeli, misalnya ikan dalam laut, barang rampasan yang masih berada di tangan yang merampasnya, barang yang dijaminkan, sebab semua itu mengandung tipu daya.[7]

C.    Dalil Jual Beli
QS. Al-Baqarah (2) ayat 275:
¨@ymr&ur... ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 ...
“...Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba....”

QS. An-Nisa (4) ayat 29:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu ÇËÒÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Hadits Nabi SAW:
اَلْمُسْلِمُ اَخُواْلمُسْلِمِ لَايَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ اَخِيْهِ بَيْعًا وَفِيْهِ عَيْبٌ اِلَّابَيّنَةٌ لَهُ. (رواه بن ماجه عن عقبة بن عار)
“seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Tidaklah halal bagi seorang muslim untuk menjual barang bagi saudaranya yang mengandung kecacatan, kecuali jika menjelaskanya terlebih dahulu.”[8]

D.    Munaqasyah Dalil
1.      Rukun dan syarat jual beli
ü  Menurut Imam Hanafi, rukun akad hanya ada satu yaitu Shigat  (Ijab dan Qabul).
ü  Menurut Imam Syafi’i, Maliki dan Hanbali rukun akad ada 3, yaitu: Shigat  (Ijab dan Qabul); Orang yang melakukan akad; Ma’qud alaihi. Ada dua cara dalam pengucapan shigat:
-          Pertama, berupa perkataan atau sesuatu yang berdiri pada maqam perkataan daripada utusan dan tulisan.
-          Kedua, dengan cara mu’athalah (beri dan ambil).

a.       Shigat jual beli
Dalam hal lafadz shigat ada perbedaan pendapat antara empat Imam mazhab:
·         Menurut Imam Hanafi, Siapa yang pertama mengucapkan ijab baik penjual maupun pembeli maka ketika itu juga telah terjadi akad. Lafadz shigat yang digunakan harus bermakna dengan kepemilikan.
·         Menurut Imam Syafi’i, lafadz shigat harus mengandung makna kepemilikan secara jelas (sharih).
·         Menurut Imam Maliki, lafadz shigat harus dengan tiap-tiap perkataan yang mengandung makna ikhlas.
·         Menurut Imam Hambali, lafadz shigat akad bisa dengan tiap-tiap lafadz yang membawahi kepada makna jual dan beli.[9]

b.      Orang yang melakukan akad
Menurut Imam Syafi’i, Maliki dan Hanbali:
-          Mumayyiz
-          Mukhtar (tidak dipaksa)[10]

E.     Akibat dari Jual Beli
Akibat dari jual beli:
1.      Terjadinya perpindahan barang.
2.      Penjual tidak mempunyai hak milik terhadap barang yang telah dijual.

F.     Manfaat Jual Beli
Manfaat dan hikmah jual beli antara lain:
1.      Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya,atas dasar kerelaan atau suka sama suka.
2.      Masing-masing pihak merasa puas,penjual melepas barang dengan ikhlas dan menerima uang,sedangkan pembeli menerima barang dan memberikan uang.
3.      Dapat menjauhkan diri dari memekan atau memilikin barang yang haram
4.      Penjual dan pembeli mendapat rahmat dari Allah SWT
5.      Menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Menurut arti bahasanya, jual beli adalah menukarkan sesuatu dengan sesuatu. Sedangkan menurut syara’ (istilah) jual beli adalah menukarkan harta dengan harta pada majelis tertentu.
1.      Rukun Jual Beli ada tiga (3), yaitu:
·         Menurut Imam Hanafi, rukun akad hanya ada satu yaitu Shigat  (Ijab dan Qabul). Siapa yang pertama mengucapkan ijab baik penjual maupun pembeli maka ketika itu juga telah terjadi akad. Lafadz shigat yang digunakan harus bermakna dengan kepemilikan.
·         Menurut Imam Syafi’i, Maliki dan Hanbali rukun akad ada 3, yaitu: Shigat  (Ijab dan Qabul);

2.      Syarat jual beli
a.       Syarat Ijab dan Qabul: Terdapat dalam satu majelis; Dilakukan dengan kesepakatan yang sama; Tidak tergantung pada suatu kejadian; Tidak di batasi oleh waktu.
b.      Syarat penjual dan pembeli, yaitu: Berakal; Dengan kehendak sendiri; Tidak mubazir; Baligh.
c.       Syarat benda dan uang, yaitu: Suci; Dapat diambil manfaat; Barang milik si penjual; Barang yang dijual harus diketahui oleh si penjual dan si pembeli; Barang itu dapat diserahkan.








DAFTAR PUSTAKA

Al Jazairi, Abdul Rahman. 2004.  Al Fiqhu ‘alal mazahib arba’, juz as-sani. Darul Hadits.

As’ad, Aliy. 1979. Fathul Mu’in. Yogyakarta: Menara Kudus.

Rasjid, Sulaiman. 1994. Fiqh Islam (Hukum Fiqh Lengkap). Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Syafe’i, Rachmat. 2001.  FIQIH MUAMALAH.  Bandung: Pustaka Setia.




[1] Aliy As’ad, Fathul Mu’in, Yogyakarta: Menara Kudus, 1979, hl. 158.
[2] Abdul Rahman Al Jazairi,  Al Fiqhu ‘alal mazahib arba’, juz as-sani, Darul Hadits, 2004, hl. 118-122.
[3]  Aliy As’ad, Fathul Mu’in, Yogyakarta: Menara Kudus, 1979, hl. 158-159
[4]  Aliy As’ad, Fathul Mu’in, hl. 159.
[5]  Ibid, hl 150
[6] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Hukum Fiqh Lengkap), Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1994, hal. 279.
[7] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, hal. 280-281.
[8] Rachmat Syafe’i, FIQIH MUAMALAH, Bandung: Pustaka Setia, 2001, hal. 116.
[9] Abdul Rahman Al Jazairi,  Al Fiqhu ‘alal mazahib arba’, juz as-sani, Darul Hadits, hl. 123-127.
[10] Ibid, hl. 128
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com