Rumah Makalah

Welcome to My Blog

Rumah Makalah

Hope My posts are beneficial

Rumah Makalah

Leave Comment, criticize me!

Rumah Makalah

I have to make improvement

Rumah Makalah

Anyway, Thanks for Visiting

Wednesday, 31 December 2014

MAKALAH RIBA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Mengenai riba, Islam bersikap keras dalam persoalan ini karena semata-mata demi melindungi kemslahatan manusia baik dari segi akhlak, masyarakat maupun perekonomiannya. Karena, Pada hakekatnya riba (kredit lunak berbunga besar), atau pinjaman yang salah penerapannya akan berakibat “meningkatnya harga barang yang normal menjadi sangat tinggi, atau berpengaruh besar terhadap neraca pembayaran antar bangsa, kemudian berakibat melejitnya laju inflasi, akibatnya akan dirasakan pada semua orang pada semua tingkah penghidupan.

B.     Rumusan Masalah
  1. Bagaimana yang dimaksud dengan pengertian riba?
  2. Bagaimana hukum riba?
  3. Bagaimana pandangan riba dalam Islam?
  4. Apa saja dalil pengharaman riba?
  5. Bagaimana subhat-subhat riba dan cara membantahnya?
  6. Bagaimana hikmah pengharaman riba?
  7. Apa saja macam-macam riba?

C.    Tujuan Penulisan
  1. Mahasiswa/i dapat memahami pengertian riba?
  2. Mahasiswa/i dapat memahami hukum riba?
  3. Mahasiswa/i dapat memahami pandangan riba dalam Islam?
  4. Mahasiswa/i dapat memahami dalil pengharaman riba
  5. Mahasiswa/i dapat memahami dan mengetahui subhat-subhat riba dan cara membantahnya?
  6. Mahasiswa/i dapat memahami hikmah pengharaman riba?
  7. Mahasiswa/i dapat memahami macam-macam riba?



BAB II
PEMBAHASAN
RIBA

A.    Pengertian Riba
Riba’ secara bahasa berarti tambahan. Kata Ar-Riba adalah isim maqshur, berasal dari rabaa - yarbuu, yaitu akhir kata ini ditulis dengan alif.Arti kata riba adalah ziyadah ‘tambahan’; adakalanya tambahan itu berasal dari dirinya sendiri.
           Allah SWT berfirman di dalam surah An-Nahl ayat 92:
... br& šcqä3s? îp¨Bé& }Ïd 4n1ör& ô`ÏB >p¨Bé& 4 ... ÇÒËÈ
Artinya:
“… Disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain….”

Maksudnya, jumlahnya banyak.[1]
Sedangkan pengertian riba’ dalam istilah fuqaha (para ahli fiqh) adalah penambahan pada salah satu dari dua barang sejenis yang dipertukarkan tanpa ada ganti atas tambahan tadi.[2]

B.     Hukum Riba
1.      Hukum Riba Nasiah Dan Dalil-Dalilnya
Semua ulama berpendapat bahwa Riba Nasiah adalah Haram hukumnya dan riba nasiah termasuk salah satu dosa besar seperti yang telah di jelaskan di dalam Al-Quran, hadist dan ijma’ para ulama.
Firman Allah:
¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§ 4ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y ÿ¼çnãøBr&ur n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9'ré'sù Ü=»ysô¹r& Í$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ   ß,ysôJtƒ ª!$# (#4qt/Ìh9$# Î/öãƒur ÏM»s%y¢Á9$# 3 ª!$#ur Ÿw =Åsム¨@ä. A$¤ÿx. ?LìÏOr& ÇËÐÏÈ   ¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# (#âqs?#uäur no4qŸ2¨9$# óOßgs9 öNèdãô_r& yZÏã öNÎgÎn/u Ÿwur ì$öqyz öNÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRtóstƒ ÇËÐÐÈ   $ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#râsŒur $tB uÅ+t/ z`ÏB (##qt/Ìh9$# bÎ) OçFZä. tûüÏZÏB÷sB ÇËÐÑÈ   bÎ*sù öN©9 (#qè=yèøÿs? (#qçRsŒù'sù 5>öysÎ/ z`ÏiB «!$# ¾Ï&Î!qßuur ( bÎ)ur óOçFö6è? öNà6n=sù â¨râäâ öNà6Ï9ºuqøBr& Ÿw šcqßJÎ=ôàs? Ÿwur šcqßJn=ôàè? ÇËÐÒÈ  
Artinya: “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Dan ini merupakan ketetapan Allah yang telah mengharamkan riba nasiah dengan sebenar-benarnya haram. Dan Allah benar-benar menolaknya orang-orang yang beriman terhadap Tuhan mereka dan yang takut akan siksanya, artinya sangat menolak dari menjadikan Allah sebagai Tuhan mereka dan mereka memerangi Allah dan RasulNya. Dan apa yang menjadi solusi terhadap orang-rang yang lemah tersebut apabila mereka memerangi Tuhan mereka yang Maha kuasa lagi Maha Perkasa yang tidak ada kelemahan baik di bumi maupun di langit? Tidak diragukan lagi bahwa mereka telah menjerumuskan diri mereka dalam kehancuran dan kerugian.[3]

C.    Pandangan Riba dalam Islam
Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu Wa Ta’ala dan Rasul Nya Shalallaahu alaihi wasalam, dan telah menjadi ijma’ kaum muslimin atas keharamannya.
Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman:

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
Artinya;
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)

Sungguh sangat besar sekali azab bagi orang-orang yang suka memakan Harta Riba, tapi kebanyakan orang selalu menganggap enteng tentang apa yang dilakukan nya, bahkan ada yang sebagian lagi sengaja memakan Riba yang padahal dia sendiri tau akan Hukum nya dalam Al-Qur’an, Naudzubillahi mindzalik.

D.    Dalil pengharaman dan Hukum Riba
Riba’ diharamkam berdasarkan Al-Qur’an, sunnah dan ijma’. Allah berfirman di dalam surah Al-Baqarah ayat 275, yang bermaksud:
            “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan menghalalkan riba’.”
            Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Rasulullah melaknat pemakan riba’, saksinya dan penulisnya.”[4]

E.     Subhat-subhat Riba dan Cara Membantahnya
Mazhab Para Ulama’ Dalam Illat Riba’
1.      Mazhab Hanafi
a.      Illat riba’ fadhl
Para ulama’ Hanafiyah berpendapat bahwa illat riba’ fadhl (maksudnya kriteria untuk mengetahui barang-barang ribawi) adalah barang tersebut ditakar atau ditimbang dengan kesamaan dalam jenisnya. Jika kedua hal ini berkumpul, maka diharamkan memberikan tambahan dan penangguhan penyerahan. Dengan demikian, illat riba’ dalam empat hal yang disebutkan dalam nash (yaitu gandum, jelai, kurma dan garam) adalah penakaran dan kesamaan jenis. Adapun illat riba’ dalam emas dan perak adalah penimbangan dan dan kesamaan jenis.
Dalil masalah ini adalah hadiths shahih yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri dan Ubadah bin Shamit dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda:
 “Emas dengan emas, masing-masing kadarnya sama dan diserahkan dari tangan ke tangan, kelebihannnya adalah riba’. Perak dengan perak, masing-masing kadarnya sama dan diserahkan dari tangan ke tangan, kelebihannya adalah riba’. Gandum dengan gandum, masing-masing kadarnya sama dan diserahkan dari tangan ke tangan, kelebihannya adalah riba’. Jelai dengan jelai, masing-masing kadarnya sama dan diserahkan dari tangan ke tangan, kelebihannya dalah riba’. Kurma dengan kurma, masing-masing kadarnya sama dan diserahkan dari tangan ke tangan, kelebihannya adalah riba’. Garam dengan garam, masing-masing kadarnya sama dan diserahkan dari tangan ke tangan, kelebihannya adalah riba’”.


b.      Illat riba’ nasiah
Illat riba’ naisah yang merupakan riba’ jahiliah adalah adanya salah satu dari dua sifat riba’fadhl, yaitu takaran atau timbangan dan kesamaan jenis barang. Misalnya, jika seseorang membeli satu sha’ gandum di musim dingin dengan satu setengah sha’ gandum yang penyerahan kedua barang itu pada musim panas. Setengah sha’ yang ditambah pada harga tidak memiliki kompensasi apa pun pada barang yang dijual, tetapi hanya sebagai kompensasi dari penangguhan waktu pembayaran saja. Oleh karena itu, riba’ ini dinamakan nasiah, yang berarti penangguhan salah satu barang yang dipertukarkan.[5]

2.      Mazhab Maliki
Para ulama’ Malikiyah dalam pendapat yang kuat berpendapat bahwa illat pengharaman tambahan emas dan perak adalah nilai (naqdiyah/tsamaniyah). Adapun illat pengharaman dalam makanan maka dibedakan antara illat riba’ fadhl dan illat riba’ nasiah.
  1. Illat riba’ nasiah
            Illat dalam pengharaman riba’ nasiah adalah barang yang dapat dimakan untuk  dan merupakan bahan pokok saja, maupun bukan merupakan bahan pokok dan tidak dapat disimpan,seperti jenis sayur-sayuran seperti labu, semangka, jeruk, lemon, sawi, wortel dan sebagainya. Juga macam-macam buah-buahan, seperti ruthab (kurma basah), apel, pisang dan sebagainya.
  1. Illat riba’ fadhl
            Illat pengharaman riba’ fadhl adalah dua hal, yaitu bahan pokok dan dapat disimpna. Maksudnya, makanan tersebut merupakan bahan pokok dan digunakan pada umumnya sebagai makanan pokok untuk menopang tubuh manusia. Dengan kata lain, jika seseorang hidup dengan makanan tersebut tanpa suatu yang lain, maka ia dapat hidup dan kesehatan tubuhnya tetap baik. Makanan pokok tersebut seperti seluruh jenis biji-bijian, kurma, kismis, daging, susu dan makanan turunannya. Termasuk dalam jenis makanan pokok ini bahan makanan yang berguna untuk menambahkan nikmat makanan, seperti garam, bumbu-bumbuan, cuka, bawang merah, bwang putih, dan minyak.
Dalil mereka mengenai illat ini adalah ketika hukum pengharaman tersebut bersifat dapat dicerna oleh akal (ma’qulul ma’na), yaitu agar masyarakat tidak saling menipu dan untuk menjaga harta mereka, maka hukum tersebut harus diterapkan pada barang-barang yang menjadi pokok kehidupan.[6]

3.      Mazhab Syafi’i
Para Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa illat riba dalam jenis emas dan perak adalah nilai. Adapun illat riba’ pada empat jenis barang ribawi lainnya adalah makanan. Maksudnya, barang-barang itu termasuk barang yang dapat dimakan, yang mencakupi tiga hal.
Pertama, makanan yang digunakan sebagai makanan pokok. Contohnya adalah gandum dan jelai, karena kedua makanan ini pada umumnya digunakan sebagai bahan makanan pokok.
Kedua, makanan yang digunakan sebagai buah. Dalam hadits yang mengenai barang-barang ribawi disebut jenis kurma, sehingga dimasukkan ke dalamnya makanan sejenis seperti kismis dan buah tin.
Ketiga, makanan yang berfungsi untuk memperbaiki makanan atau badan (sebagai obat). Dalam hadits barang ribawi disebutkan garam. Dan digabungkan ke dalam jenis ini berbagai jenis bahan obat-obatan seperti sanmaki, saqmoniya (scammony) dan jahe, serta berbagai jenis pil, seperti pil kering.
Maka tidak dibedakan antara barang yang digunakan untuk memperbaiki rasa makanan ataupun memperbaiki kesehatan badan. Makanan adalah untuk menjaga kesehatan, sedangkan obat-obatan adalah untuk mengembalikan mengembalikan kesehatan. Dengan demikian, makanan adalah adalah segala jenis barang yang secara umum digunakan untuk bahan makanan, baik secara makanan pokok, buah maupun obat.
Dari penjelasan di atas, illat riba’ menurut ulama’ Syafi’iyah adalah makanan atau nilai. Dalil para ulama’ Syafi’iyah adalah bahwa jika sebuah hukum dinyatakan dalam bentuk kata turunan (al-mustaq) maka makna yang terkandung dalam kata dasar (al-mustaq minhu) dari kata turunan itu adalah illat dari hukum tersebut. Contohnya adalah firman Allah, yang bermaksud:
 “Laki-laki yang mencuri dan wanita mencuri, potonglah tangan keduanya.” (al-Maidah: 38)
Dari ayat ini dipahami bahwa pencurian adalah illat dari pemotongan tangan. Jika hal ini telah difahami, maka dalam hadits Ma’mar bin Abdullah r.a. disebutkan bahwa ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘makanan dengan makanan masing-masing harus serupa.’”
            Dari hadits ini dapat dipahami bahwa makanan adalah illat dari hukum riba’. Hal itu karena kata “ath-tha’aam” (makanan) berasal dari kata “ath-thu’m (sesuatu yang dapat dimakan), sehingga mencakupi segala jenis barang yang dapat dimakan.[7]

4.      Mazhab Hambali
Dalam mazhab Hambali terdapat tiga riwayat mengenai illat riba’. Yang paling masyhur di antara tiga riwayat ini adalah seperti mazhab Hanafi, yaitu bahwa illat riba’ adalah takaran atau timbangan dengan kesamaan jenis barang. Riwayat kedua serupa dengan mazhab Syafi’i. Riwayat ketiga menyatakan bahwa illat riba’ selain untuk jenis emas dan perak adalah makanan yang ditakar dan ditimbang. Begitu pula, tidak terkena pada riba’ fadhl barang yang bukan makanan, seperti za’faran, besi, timah dan sebagainya. Ini adalah pendapat Said bin Musayyib sebagaimana telah dijelaskan. Dalilnya adalah sabda Rasulullah,
“Tidak ada riba’ kecuali dalam barang yang ditakar atau ditimbang dari barang-barang yang dimakan atau diminum.”[8]

Perbahasan ulama-ulama mazhab berhubung `illah riba dapat dirumuskan di dalam jadual berikut:[9]  
Mazhab  
Pandangan Tentang `Illah Riba
Mazhab Hanafi 
Berpendapat timbangan dan sukatan merupakan `illah riba tetapi menetapkan kadar timbangan atau sukatan tertentu yang dianggap riba.
Mazhab Maliki 
`Illah riba bagi barangan ribawi seperti emas dan perak ialah naqdiyyah (sifat atau fungsi sebagai wang). 
Bagi barang ribawi daripada kategori makanan ulama mazhab Maliki membezakan `illahnya mengikut jenis sama ada riba nasiah atau riba fadl. 
`Illah pengharaman riba nasiah ialah mat`umiyyah (fungsi atau sifat sesesuatu sebagai makanan. 
Bagi riba fadl pula ulama mazhab Maliki mengatakan `illahpengharamannya ialah makanan ruji dan makanan yang boleh disimpan lama. 
Mazhab Syafie
Membahagikan barangan ribawi kepada dua kategori iaitu naqd (uang) dan barang makanan. 
Ulama mazhab Syafie berpandangan `illah riba ialah naqdiyyah dan mat`umiyyah. 
Mazhab Hanbali
`Illah riba ( riba jual beli) ialah timbangan dan sukatan. 

F.     Hikmah Pengharaman Riba
1.      Riba berarti perbuatan mengambil harta orang lain tanpa hak. Nabi SAW bersabda: "Bahwa kehormatan harta manusia, sama dengan kehormatan darahnya.“ Oleh karena itu mengambil harta orang lain tanpa hak, sudah pasti haramnya.
2.      Riba dapat melemahkan kreatifitas manusia untuk berusaha atau bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin, bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan memudahkan cara mencari penghidupan, tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat. Satu hal yang tidak dapat disangkal lagi bahwa kemaslahatan dunia 100% ditentukan oleh jalannya perdagangan, pekerjaan, perusahaan dan pembangunan.(hikmah ini pasti dapat diterima, dipandang dari segi perekonomian).
3.      Riba menghilangkan nilai kebaikan dan keadilan dalam hutang piutang. Keharaman riba membuat jiwa manusia menjadi suci dari sifat lintah darat. Kalau riba diharamkan, seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya satu dirham juga. Tetapi kalau riba itu dihalalkan, maka terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan. (ini hikmah dari segi etika/akhlak).
4.      Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka pendapat yang membolehkan riba, berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Padahal tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah. (ini ditinjau dari segi sosial).

G.    Macam-macam Riba
الشا فعية قالوا: الربا إلى ثلاثة أقسام . الأول : ربا الفضل ، ومنه ربا القرض كأن يقرضه عشرين جنيها بشرط أن يكون له منفعة كأن يشترى سلعة أو يزوجه ابنته ، أو يأ خذ منه فائدة ما لية ونحو ذلك كما تقدم فى البيع الفاسد. الثانى: ربا النسيئة وهو المذكور . الثالث: ربا اليد ومعناه أنه يبيع المتجانسين كالقنح من غير تقابض.[10]

Ulama mazhab Syafi, membagikan riba kepada tiga yaitu:
1)      riba fadl;
2)      riba nasiah; dan
3)       riba yad.

Menurut mazhab Syafie, riba dalam pinjaman (riba qard) dianggap termasuk dalam kelompok riba fadl. Riba yad pula merujuk kepada jual beli barangan ribawi yang sama jenis dengan penangguhan penyerahan. Riba yad juga berlaku dalam penangguhan serahan dalam jual beli barangan ribawi yang berlainan jenis. Ulama mazhab selain Syafie seperti mazhab Hanafi merangkumkan apa yang dirujuk sebagai riba yad (oleh mazhab Syafie) ke dalam kelompok riba nasiah. 





BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Riba’ secara bahasa berarti tambahan. Sedangkan pengertian riba’ dalam istilah fuqaha (para ahli fiqh) adalah penambahan pada salah satu dari dua barang sejenis yang dipertukarkan tanpa ada ganti atas tambahan tadi.
Ulama mazhab Syafi, membagikan riba kepada tiga yaitu:
1)      riba fadl;
2)      riba nasiah; dan
3)      riba yad.

B.     Saran
Agar kita tetap menjadi muslim yang berpegang teguh pada syariat Islam, kita sebaiknya dapat menahan diri dan menjauhi segala larangan Allah swt. Dengan memperkuat iman kita pada Allah swt, kita dapat hidup dengan tenang, bahagia di dunia maupun di akhirat.


DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh Empat Mazhab, alih bahasa Chatibul Umam dan Abu Hurairah, cet. ke-1 (Jakarta: Darul Ulum Press, 2001).
Al Jazairi, Abdul Rahman.  Al Fiqhu ‘alal mazahib arba’, juz as-sani. (Darul Hadits. 2004).
Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, alih bahasa Abdul Hayyie, dkk., cet. ke-1 (Jakarta: Gema Insani, 2011).



[1] Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, alih bahasa Abdul Hayyie, dkk., cet. ke-1 (Jakarta: Gema Insani, 2011), hl: 306.
[2] Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh Empat Mazhab, alih bahasa Chatibul Umam dan Abu Hurairah, cet. ke-1 (Jakarta: Darul Ulum Press, 2001), hl: 149.
[3] Abdul Rahman Al Jazairi,  Al Fiqhu ‘alal mazahib arba’, juz as-sani, Darul Hadits, 2004, hl. 192.
[4] Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, alih bahasa Abdul Hayyie, dkk., cet. ke-1 (Jakarta: Gema Insani, 2011), hl: 307.
[5] Wahbah, Fiqh Islam, hl: 313-319
[6] Ibid, hl: 321
[7] Ibid., hlm. 322-323
[8] Ibid., hlm. 325-326. 
[10] Abdul Rahman Al Jazairi,  Al Fiqhu , hl. 192
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com