Rumah Makalah

Welcome to My Blog

Rumah Makalah

Hope My posts are beneficial

Rumah Makalah

Leave Comment, criticize me!

Rumah Makalah

I have to make improvement

Rumah Makalah

Anyway, Thanks for Visiting

Sunday, 21 June 2015

Zainab binti Khuzaimah

Zainab binti Khuzaimah
(Wafat 1 H)



Nasab dan Masa Pertumbuhannya
 
Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah. Ibunya bemama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah.

Berdasarkan asal-usul keturunannya, dia termasuk keluarga yang dihormati dan disegani. Tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti, namun ada riwayat yang rnenyebutkan bahwa dia lahir sebelum tahun ketiga belas kenabian. Sebelum memeluk Islam dia sudah dikenal dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Thabaqat ibnu Saad bahwa Zainab binti Khuzaimali bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah adalah Ummul-Masakin. Gclar tersebut disandangnya sejak masa jahiliah. Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi Ummahatil Mu’minin pun di terangkan bahwa Rasulullah. menikahinya sebelum beliau menikah dengan Maimunah, dan ketika itu dia sudah dikenal dengan sebutan Ummul-Masakin sejak zaman jahiliah. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa Zainab binti Khuzaimah terkenal dengan sifat kemurah-hatiannya, kedermawanannya, dan sifat santunnya terhadap orang-orang miskin yang dia utamakan daripada kepada dirinya sendiri. Sifat tersebut sudah tertanarn dalam dirinya sejak memeluk Islam walaupun pada saat itu dia belum mengetahui bahwa orang-orang yang baik, penyantun, dan penderma akan memperoleh pahala di sisi Allah.


Keislaman dan Pernikahannya

Zainab binti Khuzaimah. termasuk kelompok orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam adalah akal dan pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliah.

Para perawi berbeda pendapat tentang nama-nama suami pertama dan kedua sebelum dia menikah dengan Rasulullah. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami pertama Zainab adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib, yang kemudian menceraikannya. Dia menikah lagi dengan Ubaidah bin Harits, namun dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang Uhud. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami keduanya adalah Abdullah bin Jahsy. Sebenarnya masih banyak perawi yang mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Akan tetapi, dari berbagai pendapat itu, pendapat yang paling kuat adalah riwayat yang mengatakan bahwa suami pertamanya adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak dapat melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya ketika mereka hijrah ke Madinah. Untuk mernuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara laki-laki Thufail) menikahi Zainab. Sebagaimana kita ketahui, Ubaidah bin Harits adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul-Muththalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga ikut melawan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, dan akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang tersebut.

Setelah Ubaidah wafat, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang kehidupannya hingga Rasulullah menikahinya. Rasulullah menikahi Zainab karena beliau ingin melindungi dan meringankan beban kehidupan yang dialaminya. Hati beliau menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil dia sudah dikenal dengan kelemah- lembutannya terhadap orang-orang miskin. Scbagai Rasul yang membawa rahmat bagi alam semesta, beliau rela mendahulukan kepentingan kaum muslimin, termasuk kepentingan Zainab. Beiau senantiasa memohon kepada Allah agar hidup miskin dan mati dalam keadaan miskin dan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama orangorang miskin.

Meskipun Nabi. mengingkari beberapa nama atau julukan yang dikenal pada zaman jahiliah, tetapi beiau tidak mengingkari julukan “ummul-masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah.


Menjadi Ummul-Mukminin

Tidak diketahui dengan pasti masuknya Zainab binti Khuzaimah ke dalam rumah tangga Nabi ., apakah sebelum Perang Uhud atau sesudahnya. Yang jelas, Rasulullah . menikahinya karena kasih sayang terhadap umamya walaupun wajah Zainab tidak begitu cantik dan tidak seorang pun dari kalangan sahabat yang bersedia menikahinya. Tentang lamanya Zainab berada dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah pun banyak tendapat perbedaan. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Zainab memasuki rumah tangga Rasulullah selama tiga bulan, dan pendapat lain delapan bulan. Akan tetapi, yang pasti, prosesnya sangat singkat kanena Zainab meninggal semasa Rasulullah hidup. Di dalam kitab sirah pun tidak dijelaskan penyebab kematiannya. Zainab meninggal pada usia relatif muda, kurang dari tiga puluh tahun, dan Rasulullah yang menyalatinya. Allahu A’lam.

Hidupnya bersama RasuluLlah, hanya singkat. Antara 4 sampai 8 bulan. Zainab terkenal dengan julukan Ummul Masaakiin, karena kedermawanannya terhadap kaum miskin. Zainab meninggal, ketika Rasulullah masih hidup. Dan Rasulullah sendiri menshalati jenazahnya. Zainablah yang pertama kali dimakamkan di Baqi.

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Zainab binti Khuzaimah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.



Sumber :
- Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh.
 






Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib




Nama dan Nasab Beliau

Nama Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Abu Thalib adalah saudara kandung Abdullah bin Abdul Muththalib, ayah baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi Ali bin Abi Thalib adalah saudara sepupu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau dijuluki Abul Hasan dan Abu Turab.

Semenjak kecil beliau hidup diasuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ayahnya terlalu banyak beban dan tugas yang sangat banyak dan juga banyak keluarga yang harus dinafkahi, sedangkan Abu Thalib hanya memiliki sedikit harta semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih anak-anak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengasuhnya sebagai balas budi terhadap pamannya, Abu Thalib yang telah mengasuh beliau ketika beliau tidak punya bapak dan ibu serta kehilangan kakek tercintanya, Abdul Muththalib.


Ali bin Abi Thalib Masuk Islam

Mayoritas ahli sejarah Islam menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah orang kedua yang masuk Islam setelah Khadijah radhiyallahu ‘anha, di mana usia beliau saat itu masih berkisar antara 10 dan 11 tahun. Ini adalah suatu kehormatan dan kemuliaan bagi beliau, di mana beliau hidup bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan terdepan memeluk Islam. Bahkan beliau adalah orang pertama yang melakukan shalat berjamaah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana ditulis oleh al-Askari (penulis kitab al-Awa`il).


Sifat Fisik dan Kepribadian Beliau

Beliau adalah sosok yang memiliki tubuh yang kekar dan lebar, padat berisi dengan postur tubuh yang tidak tinggi, perut besar, warna kulit sawo matang, berjenggot tebal berwarna putih seperti kapas, kedua matanya sangat tajam, murah senyum, berwajah tam-pan, dan memiliki gigi yang bagus, dan bila berjalan sangat cepat.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah sosok manusia yang hidup zuhud dan sederhana, memakai pakaian seadanya dan tidak terikat dengan corak atau warna tertentu. Pakaian beliau berbentuk sarung yang tersimpul di atas pusat dan menggantung sampai setengah betis, dan pada bagian atas tubuh beliau adalah rida’ (selendang) dan bahkan pakaian bagian atas beliau bertambal. Beliau juga selalu mengenakan kopiah putih buatan Mesir yang dililit dengan surban.

Ali bin Abi Thalib juga suka memasuki pasar, menyuruh para pedagang bertakwa kepada Allah dan menjual dengan cara yang ma`ruf.

Beliau menikahi Fatimah az-Zahra putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dikarunia dua orang putra, yaitu al-Hasan dan al-Husain.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah sosok pejuang yang pemberani dan heroik, pantang mundur, tidak pernah takut mati dalam membela dan menegakkan kebenaran. Keberanian beliau dicatat di dalam sejarah, sebagai berikut :

a) Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin berhijrah ke Madinah pada saat rumah beliau dikepung di malam hari oleh sekelompok pemuda dari berbagai utusan kabilah Arab untuk membunuh Nabi, Nabi menyuruh Ali bin Abi Thalib shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di tempat tidur beliau dengan mengenakan selimut milik beliau. Di sini Ali bin Abi Thalib benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan penuh tawakal kepada Allah Ta’ala.

Keesokan harinya, Ali disuruh menunjukkan keberadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun beliau menjawab tidak tahu, karena beliau hanya disuruh untuk tidur di tempat tidurnya. Lalu beliau disiksa dan digiring ke Masjidil Haram dan di situ beliau ditahan beberapa saat, lalu dilepas.

b) Beliau kemudian pergi berhijrah ke Madinah dengan berjalan kaki sendirian, menempuh jarak yang sangat jauh tanpa alas kaki, sehingga kedua kakinya bengkak dan penuh luka-luka setibanya di Madinah.

c) Ali bin Abi Thalib terlibat dalam semua peperangan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, selain perang Tabuk, karena saat itu beliau ditugasi menjaga kota Madinah. Di dalam peperangan-peperangan tersebut beliau sering kali ditugasi melakukan perang tanding (duel) sebelum peperangan sesungguhnya dimulai. Dan semua musuh beliau berhasil dilumpuhkan dan tewas. Dan beliau juga menjadi pemegang panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.


Keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiayallahu ‘anhu

Keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sangat banyak sekali. Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi keutamaan dan keistimewaan beliau. Berikut ini di antaranya :

- Ali adalah manusia yang benar-benar dicintai Allah dan RasulNya. Pada waktu perang Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bendera ini sungguh akan saya berikan kepada seseorang yang Allah memberikan kemenangan melalui dia, dia mencintai Allah dan RasulNya, dan dia dicintai Allah dan RasulNya.” Maka pada malam harinya, para sahabat ribut membicarakan siapa di antara mereka yang akan mendapat kehormatan membawa bendera tersebut. Dan keesokan harinya para sahabat datang menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, masing-masing berharap diserahi bendera. Namun beliau bersabda, “Mana Ali bin Abi Thalib?” Mereka menjawab, “Matanya sakit, ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah menyuruh untuk menjemputnya dan Ali pun datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyemburkan ludahnya kepada kedua mata Ali dan mendoakannya. Dan Ali pun sembuh seakan-akan tidak pernah terkena penyakit. Lalu beliau memberikan bendera kepadanya. Ali berkata, “Ya Rasulullah, aku memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita.” Beliau menjawab, “Majulah dengan tenang sampai kamu tiba di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka masuk Islam dan sampaikan kepada mereka hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang manusia melalui dirimu, sungguh lebih baik bagimu dari pada unta-unta merah.” (HR. Muslim, no. 2406).

- Jiwa juang Ali sangat melekat di dalam kalbunya, sehingga ketika Rasulullah ingin berangkat pada perang Tabuk dan memerintah Ali agar menjaga Madinah, Ali merasa keberatan sehingga mengatakan, “Apakah engkau meninggalkan aku bersama kaum perempuan dan anak-anak?”

Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru menunjukkan kedudukan Ali yang sangat tinggi seraya bersabda, “Apakah engkau tidak ridha kalau kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada kenabian sesudahku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

- Beliau juga adalah salah satu dari sepuluh orang yang telah mendapat “busyra biljannah” (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.

- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyatakan kepada Ali radhiyallahu ‘anhu, “bahwa tidak ada yang mencintainya kecuali seorang Mukmin dan tidak ada yang membencinya, kecuali orang munafik.” (HR. Muslim)

- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda kepada Ali radhiyallahu ‘anhu,

َأَنْتَ مِنِّيْ وَأَنَا مِنْكَ
Engkau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu.” (HR. al-Bukhari).

- Beliau juga sangat dikenal dengan kepandaian dan ketepatan dalam memecahkan berbagai masalah yang sangat rumit sekalipun, dan beliau juga seorang yang memiliki `abqariyah qadha’iyah (kejeniusan dalam pemecahan ketetapan hukum) dan dikenal sangat dalam ilmunya. (Lihat: Aqidah Ahlussunnah fi ash-Shahabah, jilid I, halaman 283).


Ali bin Abi Thalib Menjadi Khalifah

Ketika Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah keempat, situasi dan suasana kota Madinah sangat mencekam, dikuasai oleh para pemberontak yang telah menodai tanah suci Madinah dengan melakukan pembunuhan secara keji terhadap Khalifah ketiga, Uts-man bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.
Ali bin Abi Thalib dalam pemerintahannya benar-benar menghadapi dilema besar yang sangat rumit, yaitu :

1) Kaum pemberontak yang jumlahnya sangat banyak dan menguasai Madinah.

2) Terbentuknya kubu penuntut penegakan hukum terhadap para pemberontak yang telah membunuh Utsman bin ‘Affan, yang kemudian melahirkan perang saudara, perang Jamal dan Shiffin.

3) Kaum Khawarij yang dahulunya adalah para pendukung dan pembela beliau kemudian berbalik memerangi beliau.
Namun dengan kearifan dan kejeniusan beliau dalam menyikapi berbagai situasi dan mengambil keputusan, beliau dapat mengakhiri pertumpahan darah itu melalui albitrasi (tahkim), sekalipun umat Islam pada saat itu masih belum bersatu secara penuh.

Abdurrahman bin Muljam, salah seorang pentolan Khawarij memendam api kebencian terhadap Ali bin Abi Thalib, karena dianggap telah menghabisi rekan-rekannya yang seakidah, yaitu kaum Khawarij di Nahrawan. Maka dari itu ia melakukan makar bersama dua orang rekannya yang lain, yaitu al-Barak bin Abdullah dan Amr bin Bakar at-Tamimi, untuk menghabisi Ali, Mu’awiyah dan Amr bin al-’Ash, karena dia anggap sebagai biang keladi pertumpahan darah.


Al-Barak dan Amr gagal membunuh Mu’awiyah dan Amr bin al-’Ash, sedangkan Ibnu Muljam berhasil mendaratkan pedangnya di kepala Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib, pada dini hari Jum’at, 17 Ramadhan, tahun 40 H. dan beliau wafat keesokan hari-nya.

Utsman bin ‘Affan

Utsman bin ‘Affan
(Wafat 35 H)



Nama lengkapnya adalah ‘Utsman bin Affanbin Abi Ash bin Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al Umawy al Qurasy, pada masa Jahiliyah ia dipanggil dengan Abu ‘Amr dan pada masa Islam nama julukannya (kunyah) adalah Abu ‘Abdillah. Dan juga ia digelari dengan sebutan “Dzunnuraini”, dikarenakan beliau menikahi dua puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Ibunya bernama Arwa’ bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin ‘Abdi Syams yang kemudian menganut Islam yang baik dan teguh.


Keutamannya

Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, seraya berkata, ”Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dimana paha beliau terbuka, maka Abu Bakar meminta izin kepada beliau untuk menutupinya dan beliau mengizinkannya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka). Kemudian Umar minta izin untuk menutupinya dan beliau mengizinkannnya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka), ketika Utsman meminta izin kepada beliau, amaka beliau melepaskan pakaiannya (untuk menutupi paha terbuka). Ketika mereka telah pergi, maka aku (Aisyah) bertanya, ”Wahai Rasulullah, Abu Bakar dan Umar telah meminta izin kepadamu untuk menutupinya dan engkau mengizinkan keduanya, tetapi engkau tetap berada dalam keadaan semula (membiarkan pahamu terbuka), sedangkan ketika Utsman meminta izin kepadamu, maka engkau melepaskan pakainanmu (dipakai untuk menutupinya)." Maka Rasulullah menjawab, ”Wahai Aisyah, Bagaimana aku tidak merasa malu dari seseorang yang malaikat saja merasa malu kepadanya”."

Ibnu ‘Asakir dan yang lainnya menjelaskan dalam kitab “Fadhail ash Shahabah” bahwa Ali bin Abi Thalib ditanya tentang Utsman, maka beliau menjawab, ”Utsman itu seorang yang memiliki kedudukan yang terhormat yang dipanggil dengan Dzunnuraini, dimana Rasulullah menikahkannya dengan kedua putrinya."


Perjalanan Hidupnya

Perjalanan hidupnya yang tidak pernah terlupakan dalam sejarah umat islam adalah beliau membukukan Al-Qura’an dalam satu versi bacaan dan membuat beberapa salinannya yang dikirim kebeberapa negeri negeri Islam. Serta memerintahkan umat Islam agar berpatokan kepadanya dan memusnahkan mushaf yang dianggap bertentangan dengan salinan tersebut. Atas Izin allah Subhanahu wa ta’ala, melalui tindakan beliau ini umat Islam dapat memelihara ke autentikan Al-Qur’an samapai sekarang ini. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang terbaik.

Diriwayatkan dari oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya dari yunus bahwa ketika al Hasan ditanya tentang orang yang beristirahat pada waktu tengah hari di masjid ?. maka ia menjawab, ”Aku melihat Utsman bin Affan beristirahat di masjid, padahal beliau sebagai Khalifah, dan ketika ia berdiri nampak sekali bekas kerikil pada bagian rusuknya, sehingga kami berkata, ”Ini amirul mukminin, Ini amirul mukminin..”

Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitabnya “Hulyah al Auliyah” dari Ibnu Sirin bahwa ketika Utsman terbunuh, maka isteri beliau berkata, ”Mereka telah tega membunuhnya, padahal mereka telah menghidupkan seluruh malam dengan Al-Quran”.

Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, seraya ia berkata dengan firman Allah. “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Qs Az-Zumar : 9) yang dimaksud adalah Utsman bin Affan.


Wafatnya

Ia wafat pada tahun 35 H pada pertengahan tasyriq tanggal 12 Dzul Hijjah, dalam usia 80 tahun lebih, dibunuh oleh kaum pemberontak (Khawarij).



Sumber :
- Diringkas dari Biografi Utsman bin affan dalam kitab Al ‘ilmu wa al Ulama Karya Abu Bakar al Jazairy. Penerbit Daar al Kutub as Salafiyyah. Cairo. ditulis tanggal 5 Rab’ul Awal di Madinah al Nabawiyah.

  

Umar bin Al-Khaththab

Umar bin Al-Khaththab
(Wafat 23 H)



Nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Izzy bin Rabah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luay al-Quraisy al-‘Adawy. Terkadang dipanggil dengan Abu Hafash dan digelari dengan al-Faruq. Ibunya bernama Hantimah binti Hasyim bin al-Muqhirah al-Makhzumiyah.


Awal Keislamanya

Umar masuk Islam ketika para penganut Islam kurang lebih sekitar 40 (empat puluh) orang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Imam Tirmidzi, Imam Thabrani dan Hakim telah meriwayatkan dengan riwayat yang sama bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah berdo’a, ”Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam.”.

Berkenaan dengan masuknya Umar bin al-Khaththab ke dalam Islam yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad yang diungkap oleh Imam Suyuti dalam kitab “ Tarikh al-Khulafa’ ar-Rasyidin” sebagai berikut :

Anas bin Malik berkata : ”Pada suatu hari Umar keluar sambil menyandang pedangnya, lalu Bani Zahrah bertanya ”Wahai Umar, hendak kemana engkau?,” Maka Umar menjawab, “Aku hendak membunuh Muhammad.” Selanjutnya orang tadi bertanya: ”Bagaimana dengan perdamaian yang telah dibuat antara Bani Hasyim dengan Bani Zuhrah, sementara engkau hendak membunuh Muhammad”.

Lalu orang tadi berkata,” Tidak kau tahu bahwa adikmu dan saudara iparmu telah meninggalkan agamamu”. Kemudian Umar pergi menuju rumah adiknya dilihatnya adik dan iparnya sedang membaca lembaran Al-Quran, lalu Umar berkata, “barangkali keduanya benar telah berpindah agama”. Maka Umar melompat dan menginjaknya dengan keras, lalu adiknya (Fathimah binti Khaththab) datang mendorong Umar, tetapi Umar menamparnya dengan keras sehingga muka adiknya mengeluarkan darah.

Kemudian Umar berkata: “Berikan lembaran (al-Quran) itu kepadaku, aku ingin membacanya”, maka adiknya berkata.” Kamu itu dalam keadaan najis tidak boleh menyentuhnya kecuali kamu dalam keadaan suci, kalau engaku ingin tahu maka mandilah (berwudhulah/bersuci).”. Lalu Umar berdiri dan mandi (bersuci) kemudian membaca lembaran (al-Quran) tersebut yaitu surat Thaha sampai ayat, ”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhanselain Aku, maka sembahlah Aku dirikanlah Shalat untuk mengingatku.” (Qs.Thaha:14). Setelah itu Umar berkata,” Bawalah aku menemui Muhammad.”.

Mendengar perkataan Umar tersebut langsung Khabbab keluar dari sembunyianya seraya berkata:”Wahai Umar, aku merasa bahagia, aku harap do’a yang dipanjatkan Nabi pada malam kamis menjadi kenyataan, Ia (Nabi) berdo’a “Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam.”.

Lalu Umar berangkat menuju tempat Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, didepan pintu berdiri Hamzah, Thalhah dan sahabat lainnya. Lalu Hamzah seraya berkata, ”Jika Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya dia akan masuk Islam, tetapi jika ada tujuan lain kita akan membunuhnya”. Lalu kemudian Umar menyatakan masuk Islam dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Lalu bertambahlah kejayaan Islam dan Kaum Muslimin dengan masuknya Umar bin Khaththab, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud, seraya berkata, ”Kejayaan kami bertambah sejak masuknya Umar.

Umar turut serta dalam peperangan yang dilakukan bersama Rasulullah, dan tetap bertahan dalam perang Uhud bersama Rasulullah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Suyuthi dalam “Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin”.

Rasulullah memberikan gelar al-Faruq kepadanya, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Dzakwan, seraya dia berkata,” Aku telah bertanya kepada Aisyah, “ Siapakah yang memanggil Umar dengan nama al-Faruq?”, maka Aisyah menjawab “Rasulullah”.

Hadist Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:” Sungguh telah ada dari umat-umat sebelum kamu para pembaharu, dan jika ada pembaharu dari umatku niscaya ‘Umarlah orangnya”. Hadist ini dishahihkan oleh Imam Hakim. Demikian juga Imam Tirmidzi telah meriwayatkan dari Uqbah bin Amir bahwa Nabi bersabda,” Seandainya ada seorang Nabi setelahku, tentulah Umar bin al-Khaththab orangnya.”.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibnu Umar dia berkata,” Nabi telah bersabda:”Sesungguhnya Allah telah mengalirkan kebenaran melalui lidah dan hati Umar”. Anaknya Umar (Abdullah) berkata,” Apa yang pernah dikatakan oleh ayahku (Umar) tentang sesuatu maka kejadiannya seperti apa yang diperkirakan oleh ayahku”.


Keberaniannya

Riwayat dari Ibnu ‘Asakir telah meriwayatkan dari Ali, dia berkata,” Aku tidak mengetahui seorangpun yang hijrah dengan sembunyi sembunyi kecuali Umar bi al-Khaththab melakukan dengan terang terangan”. Dimana Umar seraya menyandang pedang dan busur anak panahnya di pundak lalu dia mendatangi Ka’bah dimana kaum Quraisy sedang berada di halamannya, lalu ia melakukan thawaf sebanyak 7 kali dan mengerjakan shalat 2 rakaat di maqam Ibrahim.

Kemudian ia mendatangi perkumpulan mereka satu persatu dan berkata,” Barang siapa orang yang ibunya merelakan kematiannya, anaknya menjadi yatim dan istrinya menjadi janda, maka temuilah aku di belakang lembah itu”. Kesaksian tersebut menunjukan keberanian Umar bin Khaththab Radhiyallahu’Anhu.


Wafatnya

Pada hari rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H ia wafat, ia ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh beliau ditikam oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar dimakamkan di samping Nabi dan Abu Bakar ash Shiddiq, beliau wafat dalam usia 63 tahun.



Sumber :
- Disalin dari Biografi Umar Ibn Khaththab dalam Tahbaqat Ibn Sa’ad, Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin Imam Suyuthi.

  

POMPEI, IMITASI SODOM DI ITALIA

Gunung Vesuvius adalah lambang negeri Italia, khususnya kota Naples. Gunung berapi ini juga dikenal sebagai “Gunung Kemalangan”. Dinamakan demikian karena sebuah kota yang berada di lerengnya pernah bernasib serupa dengan kota Sodom. Kota yang bernama Pompeii ini dihancurkan karena pembangkangannya kepada Allah dan perilaku menyimpang penduduknya.

Di masa lalu Pompeii adalah kota tujuan wisata bagi masyarakat kelas atas Kekaisaran Romawi dan menjadi lambang kemakmuran. Gaya arsitektur rumah-rumahnya sungguh memukau. Penduduk Pompeii sangatlah makmur. Sayangya, bukannya bersyukur kepada Allah atas kemakmuran itu, mereka malah menjadi bangsa berperilaku menyimpang yang berkubang dalam kemaksiatan.

Pompeii sangat tersohor karena dua hal. Pertama, kota ini memiliki arena pertarungan gladiator kedua terbesar setelah coloseum yang ada di kota Roma. Pertarungan hingga mati ini mereka adakan hanya untuk menghibur kaum kaya. Di tahun-tahun awal sejarah agama Nasrani, oleh kaisar Romawi yang beragama politeisme, arena itu menjadi tempat mengadu sesama orang Nasrani hingga mati.

Kedua, Pompeii berlaku sistem perbudakan yang paling tidak manusiawi. Kaum bangsawan Pompeii kerap memaksa budak mereka untuk menjadi pelacur. Para budak di bawah kerap kerap dijadikan obyek perilaku homoseksual mereka.

Alhasil kekayaan yang mereka miliki malah menjadikan mereka bergelimang dalam kenistaan dan kemaksiatan, hingga suatu saat tiba-tiba Gunung Vesuvius meletus, lalu dalam sekejap laharnya menenggelamkan kota Pompeii beserta isinya. Begitu cepatnya bencana itu terjadi, sehingga seluruh penduduk Pompeii tidak ada yang dapat melarikan diri. Bahkan, mereka yang sedang duduk tidak sempat untuk sekedar berdiri.

Kejadian memukau ini baru bisa diketahui 2000 tahun setelah itu peristiwa itu terjadi. Kejadian itu mulai terkuak ketika seperempat pertama abad ke-20, para arkeolog mulai menggali sisa reruntuhannya dari bawah berton-ton batuan vulkanis. Apa yang mereka temukan adalah sejarah berusia 2000 tahun yang benar-benar terawetkan. Bencana ini menimpa Pompeii sangat tiba-tiba hingga semuanya tetap dalam keadaan yang sama seperti 2000 tahun yang lalu, seolah perjalanan waktu telah terhenti.

Meskipun letusan Vesuvius sangat mengerikan, tak seorang pun sempat melarikan diri, tapi mereka membatu di tempat mereka berada. Muka, bahkan gigi dari sejumlah tubuh ini masih utuh sama sekali. Hampir semua wajah mereka menampakkan mimik keterkejutan dan ketakutan. Sebuah keluarga yang sedang makan bersama membatu seketika itu juga. Bahkan makanan di atas meja ikut terawetkan.


Masih ada sejumlah kisah ummat lainnya yang juga habis ditimpa adzab Allah. Di antaranya ada kaum ‘Aad, ummat Nabi Ibrahim, ummat Nabi Musa serta kaum Saba’. Kisah dan kajian ilmiah tentang mereka dan tidak kalah menarik dari paparan di atas. Apa menariknya? Silakan Anda temukan jawabannya pada buku “Negeri-negeri yang Musnah” (The Perished Nations), karya Harun Yahya. Selamat mencari dan membacanya.

Source: Info@harunyahya.com

Thursday, 11 June 2015

TOLERANSI BERTEPUK SEBELAH TANGAN DAN LOGIKA YANG DIBOLAK-BALIK = ISLAM DISERANG



Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Tulisan ini hanya buah pikiran saya, seseorang muslim yang tinggal di Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam terhadap fenomena toleransi sepihak dan logika yang dibolak-balik sebagai bentuk penyerangan terhadap Islam  yang terjadi di Negara yang saya cintai, Republik Indonesia ini. Tulisan ini bukan ditujukan untuk mendiskreditkan suku/ras/agama/oknum tertentu atau pun pendukung kelompok politik tertentu. Hanya sebuah “suara” yang lahir dari sebuah keprihatinan.
Saya menganalogikan keadaan pemeluk agama Islam Indonesia sekarang bak sebuah tubuh yang sedang dicoba untuk diserang, dilukai, dan disakiti dengan pelan-pelan, sedikit-sedikit dan halus hingga tubuh yang diserang itu tidak menyadari ia sedang disakiti sehingga penyerangan bisa terus berlangsung tanpa adanya reaksi dari tubuh yang diserang. Bahkan, dengan jurus logika yang dibolak-balik, salah satu bagian tubuh yang diserang dapat turut menyerang bagian tubuh yang lain.
Contoh pertama adalah himbauan Menang Lukman Hakim Saifuddin terkait orang yang berpuasa harus menghormati orang yang tidak puasa. Dalam twit kontroversialnya beliau menulis “Warung-warung tak perlu dipaksa tutup. Kita harus hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa..". Di sini saya tidak ingin mengomentari buka atau tutupnya warung  makan di Bulan Ramadhan, namun saya ingin mengajak pembaca untuk melihat dari sisi yang lain, yaitu toleransi sepihak.
Penjelasannya begini, Islam adalah agama yang penuh toleransi, Islamlah agama yang mengajarkan toleransi luar biasa kepada dunia, hingga dimana Islam subur, maka sejuklah belahan dunia itu. Untuk itu, di negara multirasial ini, Islam sebagai salah satu agama di Indonesia harus toleransi terhadap umat beragama lain. Tapi tak terasakah bahwa pada kenyataannya hanya umat islam saja yang “dituntut” untuk toleransi?
Saat Natal misalnya, pemeluk agama Islam di mall dan tempat-tempat tertentu dihimbau/diperintahkan untuk memakai kupluk sinterklas sebagai tanda menghormati pemeluk agama yang merayakan natal. Pada saat hari raya Nyepi, umat Islam diminta untuk tidak melaksanakan kegiatan demi menghormati pemeluk agama yang sedang  merayakan Nyepi. Disini dapat kita lihat, sasaran yang wajib untuk “menghormati” agama lain itu siapa? Islam. Bahkan sekarang, saat bulan Ramadhan dimana umat Islam berpuasa, umat Islam masih dituntut juga untuk toleransi dan menghormati. “Menghormati” siapa? Yang tidak puasa! Saat Natal, muslim memakai kupluk sinterklas, saat nyepi muslim harus ikut merasakan nyepi, bahkan saat puasa pun muslim harus tetap menghormati yang tidak puasa, bukankah sudah terlihat bahwa sebenarnya yang diwajibkan untuk toleransi disini adalah Muslim. Ini namanya toleransi bertepuk sebelah tangan.
Jika toleransi itu wajib untuk semua pemeluk agama di Indonesia, seharusnya pak mentri agama berani dengan lantang mengatakan “Karyawan mall tidak perlu pakai kupluk sinterklas saat natal, hormatilah yang tidak merayakannya” atau saat nyepi “Bandara gak perlu ditutup saat nyepi, hormatilah yang tidak merayakannya” Jadi akan sinkron jika kemudian pak mentri bilang “warung gak perlu ditutup hormatilah yang tidak menjalankannya” Tapi sayangnya tidak, hanya Islam saja yang harus toleran, padahal Islamlah guru toleransi dunia.
Kalau natal, kalimatnya “Muslim, hormati dong yang natal”
Kalau nyepi, kalimatnya “Muslim, hormati dong yang nyepi”
Eh, ini kalau Muslim lagi beribadah, masih juga disuruh menghormati “Muslim, hormati dong yang gak puasa” Miris sodara-sodara. Jadi kalau Valentine, Muslim juga harus menghormati orang yang berzina? -_-
“Kalau gak mau toleransi ya gak usah jadi muslim” Jangan kira gak ada lho yang berani  mengucapkan kalimat ini. ADA!!
Zaman semakin tua kawan-kawan, semakin sulit untuk menjadi seorang muslim. Jika sulit dirasakan oleh muslim yang tinggal di negara non-muslim saya rasa itu wajar, karena mereka berhadapan dengan orang-orang yang tidak mengerti Islam. Tapi saat ini, tekanan justru dilakukan oleh muslim sendiri. Mereka melemparkan permainan logika agar publik berpikir “Benar juga kata pak menag, yang puasa juga harus juga menghormati orang yang gak puasa dong”
Contoh kedua adalah masalah larangan berdoa disekolah oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan. Masalah ini sempat menjadi topik yang hangat, hingga ustad Yusuf Mansur pun turut menyatakan ketidaksetujuannya atas peraturan baru ini. Namun lagi-lagi, ternyata ini hanya Test The Water. Ujung-ujungnya pak mentri membantah pernyataan ini.
"Sekolah di Indonesia mempromosikan agar anak-anak kita taat menjalankan agamanya, tapi bukan memaksakan satu agama. Jadi, kita sedang susun, ada tata tertib saat memulai dan tutup sekolah, dan terkait dengan doa, yang menimbulkan masalah.  Prinsipnya gak boleh sekolah negeri promosikan sikap satu agama, tapi bhineka tunggal ika," kata Mendikbud Anies saat itu.
Pernyataan Mendikbud ini kontan langsung mendapat kritik keras baik dari anggota DPR, Ulama, artis sampai rakyat biasa. Hingga akhirnya pak mentri mengatakan bahwa kebijakan itu hanyalah wacana, bukan pelarangan doa namun akan ditinjau doa yang akan dibacakan saat memulai dan mengakhiri kelas.
Logika publik pun mulai dikocok-kocok lagi disini “Oh iya ya, Inikan bukan negara Islam, jadi gak perlulah doa-doa segala. Kalau mau doa kan bisa di dalam hati atau dimesjid aja.” Jangan berekspektasi bahwa tidak ada muslim yang berani mengatakan ini. ADA!!
Mungkin nanti akan ada penyataan senada “Anak-anak sekolah tidak boleh berjilbab, karena ini bukan negara Islam, kalau mau pakai Jilbab, di mesjid aja. Karena buktinya sudah ada pernyataan “Polwan yang ingin memakai jilbab pindah saja ke Aceh”
Contoh ketiga adalah pernyataan JK yang masih sangat ramai dibicarakan. "Kita sudah buat rumusan di Dewan Masjid, mengaji tidak boleh pakai kaset," kata JK saat membuka ijtima' ulama komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Pondok Pesantren At-Tauhidiyyah Cikura Tegal Jawa Tengah, Senin (8/6). Wapres menceritakan saat dia berada di kampung halaman di Sulawesi Selatan. Pukul 04.00 WITA sudah dibangunkan suara pengajian dari empat masjid, tapi suara tersebut berasal dari kaset. "Pertanyaannya kalau yang mengaji kaset apakah mengaji dapat pahala, kita jadi terganggu, terjadi polusi suara," katanya.
Ya Allah, “mengaji itu polusi suara” itu poinnya, bukan pada kaset atau tidaknya. Karena jika dilihat di atas, pada pernyataannya yang menimbulkan gangguan itu adalah suara mengaji yang diputar pada jam empat. SUARA bukan KASET nya. Mungkin pak JK ingin berkata “Kita umat muslim harus menghormati dong orang yang bukan muslim, jangan keras-keras kalau mengaji, mereka jadi bising, karena gereja, kuil, pura, klenteng juga gak pakai pengeras suara. Malahan mungkin nanti ada yang berani menyatakan “Azan jangan pakai pengeras suara, mengganggu orang lain, SMS aja kan bisa, kayak gak tau perkembangan zaman aja”... “Gleggg” *Nelan Batu
 Dan lagi, urusan dapat pahala atau tidak, itu bukanlah urusan JK, tapi Allah yang punya kuasa. Mungkin pak JK juga akan mempertanggungjawabkan perkatannya mengenai “Polusi Suara” ini. Jika yang mengatakan Azan itu polusi suara adalah non muslim, yah wajar, dia kafirun. Tapi ini, ketua dewan masjid!!!
Sebagai seorang Muslim, saya senang dibangunkan oleh suara mengaji dan azan yang bersahut-sahutan, baik itu dari kaset atau pun dari manusia. Di daerah saya, Aceh, yang notabene penduduknya Muslim, suara mengaji bersahut-sahutan dimulai dari jam empat pagi sampai lewat tengah malam itulah yang justru saya rindukan. Karena biasanya suara mengajinya hanya pada hari jumat saja. Kalau di hari-hari lain hanya menjelang azan dna itu tidak terlalu lama durasinya, tidak seperti saat ramadhan.
Tapi seperti yang saya katakan tadi, logika yang dibolak-balikkan agaknya bermain juga disini. Mendengar pernyataan JK tadi, orang akan mulai berpikir “Oh iya ya, bener juga tuh kata Wapres, suara mengaji terus-terusan emang bikin bising kalau dari jam 4 pagi”
Contoh keempat, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebutkan, sekitar 90 persen perempuan penderita HIV/AIDS di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, merupakan perempuan berjilbab dan dari keluarga baik-baik.
"Persentase 90 persen ini dari data sebanyak 564 perempuan yang dinyatakan positif menderita HIV/AIDS," kata Khofifah Indar Parawansa di sela-sela haul Ulama Madura di Desa Petereman, Bangkalan, Jawa Timur, Minggu.
Setelah diteliti, katanya, ke-90 persen perempuan berjilbab yang terinfeksi virus HIV/AIDS tersebut, karena suaminya, memang sering menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK). Yang menjadi poin miris dalam kasus ini adalah kenapa justru JILBAB nya itu yang ditonjolkan? Apa maksudnya? Apa motifnya? Apa visi misinya? Seolah memberikan pernyataan bahwa perempuan berjilbab itulah justru yang berpenyakit kotor.
Contoh kelima Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menegaskan Kemendagri tetap memperbolehkan masyarakat mengosongkan kolom agama dalam KTP eletronik. Menurut Tjahjo, jangan sampai masyarakat di luar enam agama yang diakui negara tidak mendapatkan e-KTP.
"Penghayat kan tidak mau masuk ke kolom agama yang sah, warga diberi kebebasan dan diberikan kesempatan beribadah. Jangan sampai kalau orang di luar agama itu tidak berhak mendapatkan e-KTP," ujarnya di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Jumat (7/11/2014). Poinnya disini adalah pak mentri yang terhormat ingin memprioritas minoritas dari status negara kita sebagai negara beragama. Meski memang Cuma Islam KTP, apakah ada orang Islam yang malu mencantumkan agama : Islam di KTP nya? Apa tujuan pak mentri yang kalau dipikir, kurang kerjaan ini? apakah mungkin untuk melebarkan jalan orang-orang berpaham komunis masuk? Saya pernah melihat line pemberitaan “Buat apa ngaku Islam kalau Cuma di KTP doang”. Jadi maksudnya, kalau seseorang merasa dirinya preman, hina dina, tapi agamanya Islam, lebih baik kolom agamanya dikosongkan aja gitu. “Oh iya, bener juga” sahutan untuk orang yang logikanya diobok-obok.
Contoh keenam, pembacaan Al-Qur’an dengan langgam jawa. Astaghfirullahaladziim. Saya takut negara kita diazab Allah karena kita mempermainkan kitab-Nya. Dan sikap pak mentri, bukannya meminta maaf, malah meminta dikirimkan audio/video pembacaan Al-Qur’an dengan langgam-langgam daerah lain dan lebih jauh lagi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa pemerintah berencana menyelenggarakan festival pembacaan Al-Quran dengan beragam langgam Nusantara.
Wakil Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnaen mengungkapkan membaca Alquran dengan menggunakan langgam Jawa di Istana Negara, telah mempermalukan Indonesia di kancah internasional. Tengku merasa banyak kesalahan, baik dari segi tajwid, fashohah, dan lagunya. Menurutnya, pembacaan ayat-ayat Alquran dengan menggunakan langgam Jawa adalah hal konyol. Menurutnya, dalam Alquran sudah dijelaskan kitab suci itu diturunkan dengan huruf dan bahasa Arab asli. Jadi membacanya juga mesti sesuai pada saat Alquran diturunkan ke bumi. "Ibadah itu sudah digariskan Allah dan Rasul-Nya. Dalam Alquran dijelaskan bahwa Alquran itu diturunkan dalam lisan Arab asli. Nabi juga mengatakan Alquran untuk dialek Quraisy, jadi membacanya harus dengan cara bagaimana Alquran itu diturunkan”
Selain itu, lagu untuk pembacaan Alquran sendiri sudah disepakati para Qurra yang ada di dunia yakni husaini bayati, hijaz, shoba, nahqand, rast, sikkah, jaharkah atau Ajami. Tentu akan lahir keanehan jika Alquran dibaca dengan menggunakan langgam tertentu seperti lagu Cina, Batak, seriosa, Indian, Jawa, Sunda, dan lainnya.
Contoh keenam, yang saya rasa juga turut merugikan pemeluk agama Islam adalah tes keperawanan bagi prajurit wanita TNI.
“Alah, tes keperawanan aja kok dijadikan masalah. Kalau situ masih perawan ya tenang aja, kalau situ takut, berarti gak perawan lagi. Karena Cuma yang gak perawan aja yang takut. Gitu aja kok repot” Seperti itulah pendapat netizen saat saya membaca komentar-komentar di social media mengenai isu tes perawan ini.
Sebenarnya yang dipermasalahkan itu bukan hasil tesnya, tapi caranya yang menyakitkan, sangat merendahkan serta merugikan kaum perempuan, baik itu yang muslimah ataupun bukan, pasti akan merasa dirugikan. Karena sejatinya keperawanan itu bukan ditentukan oleh selaput dara, tetapi oleh perbuatan si perempuan.
Contoh serangan ketujuh adalah pemblokiran situs Islam yang katanya radikal. Bahkan dikatakan bahwa situs Islam radikal lebih berbahaya daripada situs porno sekalipun. Ya Allah, apa yang terjadi?
Contoh selanjutnya sebelum DPR dan MPR dilantik beredar bahwa pemerintah akan menghapuskan Kementerian Agama dari pos pemerintahan. Seketika itu juga, banyak kaum muslimin berlomba-lomba menolak kebijakan itu. Sehingga pada akhirnya, keluar kebijakan, “Siapa bilang kita mau menghapuskan Menteri Agama dari pemerintahan, itu cuma wacana.” Kalaupun jadi dihapuskan, mau jadi apa negara ini? Test The Water again.
Pembaca juga pasti tidak lupa dengan pernyataan Ahok yang sempat ingin melegalkan miras, melarang kurban dimasjid dan sekolah, lokalisasi PSK yang terstruktur dan bersertifikat, hingga pengawasan khutbah jumat.
Kawan-kawan, jika kita perhatikan contoh-contoh di atas, tidakkah kalian merasa bahwa kita sebenarnya sedang diserang? Tidakkah kalian merasa bahwa pedang mereka ditujukan kepada kita? Kita ini tubuh yang sedang dicoba untuk dicubit lengannya, ditampar pipinya, dipelintir kupingnya, dijitak dahinya, mereka melakukannya pelan-pelan dengan tangan mereka, hingga mungkin suatu saat mereka akan menikam kita. Kawan, kita juga punya tangan, tidakkah kita bisa menangkis serangan mereka? Bukan malah menyakiti diri kita dengan tangan kita sendiri dengan mendukung mereka? Atas nama Islam, bukan atas nama politik ataupun kebencian, tapi demi Islam, tidakkah kalian merasa kita sedang tidak dalam keadaan “baik-baik” saja?
Saya bosan dan muak dengan orang-orang yang terus-terus membela junjungannya, atas kebijakan salah yang dibuatnya dan bawahannya. Bukan masalah kalian menang dan kami kalah. Bukan masalah kami sakit hati. Lupakan berkubu-kubu itu, jadilah tubuh yang satu, tubuh yang saling mengerti keadaan. Jadilah orang yang bijksana, mengerti kapan harus mendukung dan kapan harus mengkritik.
“Saya tidak memilihnya, namun jika kebijkannya benar akan saya dukung, dan salah akan saya kritisi.”
Begitu juga dengan:
“Saya memilihnya. Jika kebijakannya benar akan saya dukung dan salah akan saya kritisi”
Jangan berpura-pura bahagia dan senang dengan euforia kemenangan padahal tubuh kita tidak berada dalam keadaan itu.
“Perumpamaan kaum mukmin dalam kasih sayang dan belas kasih serta cinta adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian anggota tubuh sakit maka akan merasa sakit seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Salam damai selalu, Wassalamu’alaykum.
Karang Baru, 11 Juni 2015



Saturday, 14 March 2015

MAKALAH JUAL BELI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam menjalani kehidupan di dunia tidak terlepas dari yang namanya ekonomi. Ekonomi merupakan kegiatan yang berkaitan dengan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Hal itu pun diatur dalam Islam, yang mana dalam setiap kegiatannya tidak terlepas dari aturan Islam khususnya dalam hal jual beli.
Imam-imam Mazhab pun membahas permasalahan ekonomi, khususnya dalam hal jual beli di dalam ajaran dan kitab-kitab yang mereka buat. Hal itu juga tidak terlepas dari perbedaan pendapat dari masing-masing Imam. Untuk itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang perbandingan Imam Mazhab tentang permasalahan dalam jual beli.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian jual beli?
2.      Apa rukun dan syarat jual beli?
3.      Apa dalil tentang jual beli?
4.      Bagaimana munaqasyah dalil tentang jual beli?
5.      Apa akibat dan manfaat dari jual beli?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mahasiswa/i dapat mengetahui pengertian jual beli.
2.      Mahasiswa/i dapat mengetahui rukun dan syarat jual beli.
3.      Mahasiswa/i dapat mengetahui dalil tentang jual beli.
4.      Mahasiswa/i dapat mengetahui munaqasyah dalil tentang jual beli.
5.      Mahasiswa/i dapat mengetahui akibat dan manfaat dari jual beli.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Jual Beli
هُوَ ـ لُغَةً ـ :  مقا بلة شئ بشئ . وشر عا : مقا بلة مل بما ل على وجه مخصوص.
Menurut arti bahasanya, jual beli adalah menukarkan sesuatu dengan sesuatu. Sedangkan menurut syara’ (istilah) jual beli adalah menukarkan harta dengan harta pada majelis tertentu.[1]
·         Menurut Imam Hanafi pengertian jual beli di bagi menjadi dua, yaitu umum dan khusus:
Secara khusus:
ومن هذ ا يتضح لك ان تعر يف البيع با لمعني الخا ص : وهو مبا د لة السلعة با لنقد على وجة مخصو ص .
Jual beli adalah mengganti benda dengan uang dengan cara-cara yang dikhususkan

Secara Umum:
واما تعر يفه با لمعنى العا م : فهو مبا د لة الما ل با لما ل على وجه مخصوص.
Jual beli adalah menggantikan harta dengan harta dengan cara-cara yang dikhususkan”

·         Menurut Imam Maliki pengertian jual beli di bagi menjadi dua, yaitu umum dan khusus:
Secara khusus:
اما تعر يفه با لمعنى الا خص : فهو عقد معا و ضة على غير منا فع و لا متعة لذ ة .
jual beli adalah aqad mu’awadhah (akad yang meliputi di atas benda dari kedua belah pihak/timbal balik) bukan hanya untuk mengambil manfaat dan nikmatnya saja.
Secara khusus:
“Jual beli ( البيع ) yang hanya termaksud di dalam jual beli”

Secara umum:
فا ما تعر يفه با لمعنى الا عم فهو عقد معا و ضة على غير منا فع ولا متعة لذ ة .
“jual beli adalah aqad mu’awadhah (timbal balik antara penjual dan pembeli) bukan hanya untuk mengambil manfaat dan nikmatnya saja dari benda tersebut.”

·         Menurut Imam Hanbali.
معنى البيع فى الشر ع :مبا د لة ما ل بما ل ,او مبا دلة منفعة مبا حة بمنفعة مبا حة على التا بيد غير ربا وقر ض .
“Jual beli adalah mengganti harta dengan harta dalam satu majelis atau mengganti manfaat dengan manfaat yang dibolehkan untuk selamanya dan tidak mengandung riba dan hutang.”

·         Menurut Imam Syafi’i.
البيع فى الشر ع مقا بلة ما ل بما ل على وجه مخصوص , اى عقد ذ و مقا بلة ما ل بما ل ... الخ .
Jual beli adalah menggantikan harta dengan harta dengan cara yang khusus.[2]

B.     Rukun dan Syarat Jual Beli
1.      Rukun Jual Beli ada tiga (3), yaitu:
a.       Shigat  (Ijab dan Qabul);
Jual beli sah dengan adanya ijab (pernyataan menjual) dari penjual dengan kata-kata yang jelas. Misalnya, “Saya menjual barang ini kepadamu dengan harga sekian” atau barang ini untukmu dengan harga sekian”. Juga dengan adanya qabul (persetujuan membeli) dari pembeli yang menyatakan menerima kepemilikan secara jelas. Misalnya, “Barang ini saya beli dengan harga sekian” atau “Saya menerima/setuju/ mengambil/menerima pemilikan barang ini dengan harga sekian”.[3]
b.      Orang yang melakukan akad;
Orang yang melakukan akad adalah penjual yang menjual barang dagangannya dan pembeli yang akan membeli barang dagangannya.
c.       Ma’qud alaihi (barang dan uang).
Barang milik penjual dan tsaman (uang harga) milik pembeli; maka jual beli fudliliy (yaitu yang tidak punya hak atas barang yang diperjual belikan) adalah tidak sah.[4]

2.      Syarat jual beli
a.       Syarat Ijab dan Qabul:
-          Terdapat dalam satu majelis;
-          Dilakukan dengan kesepakatan yang sama;
-          Tidak tergantung pada suatu kejadian;
-          Tidak di batasi oleh waktu.[5]

b.      Syarat penjual dan pembeli
Secara umum ada 4, yaitu:
-          Berakal
-          Dengan kehendak sendiri
-          Tidak mubazir
-          Baligh[6]

c.       Syarat benda dan uang.
-          Suci
 )ئمنها ان يمكو ن طا هر ا فلا يصح ان يكو ن النجس مبيعا و لا ثمنا (
Barang najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk dibelikan.
-          Dapat diambil manfaat.
 )و منها ان يكون منتفعا به انتفا عا شر عيا فلا ينعقد بيع الحشر ات التى لا نفع فيها (
Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Dilarang pula mengambil tukarannya karena hal itu termasukdalam arti menyia-nyiakan
-          Barang milik si penjual
 ( و منها ان يكو ن المبيع مملو كا للبا ئع حا ل البيع(
-          Barang yang dijual harus diketahui oleh si penjual dan si pembeli.
 ) و منها ان يكو ن مقدو ورا على تسليمة (
-          Barang itu dapat diserahkan.
 )ان يكون المبيع معلو ما و الثمن معلو ما علما يمنع من المنا زعة (
Tidak sah menjual suatu barang yang tidak dapat diserahkan kepada yang membeli, misalnya ikan dalam laut, barang rampasan yang masih berada di tangan yang merampasnya, barang yang dijaminkan, sebab semua itu mengandung tipu daya.[7]

C.    Dalil Jual Beli
QS. Al-Baqarah (2) ayat 275:
¨@ymr&ur... ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 ...
“...Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba....”

QS. An-Nisa (4) ayat 29:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu ÇËÒÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Hadits Nabi SAW:
اَلْمُسْلِمُ اَخُواْلمُسْلِمِ لَايَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ اَخِيْهِ بَيْعًا وَفِيْهِ عَيْبٌ اِلَّابَيّنَةٌ لَهُ. (رواه بن ماجه عن عقبة بن عار)
“seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Tidaklah halal bagi seorang muslim untuk menjual barang bagi saudaranya yang mengandung kecacatan, kecuali jika menjelaskanya terlebih dahulu.”[8]

D.    Munaqasyah Dalil
1.      Rukun dan syarat jual beli
ü  Menurut Imam Hanafi, rukun akad hanya ada satu yaitu Shigat  (Ijab dan Qabul).
ü  Menurut Imam Syafi’i, Maliki dan Hanbali rukun akad ada 3, yaitu: Shigat  (Ijab dan Qabul); Orang yang melakukan akad; Ma’qud alaihi. Ada dua cara dalam pengucapan shigat:
-          Pertama, berupa perkataan atau sesuatu yang berdiri pada maqam perkataan daripada utusan dan tulisan.
-          Kedua, dengan cara mu’athalah (beri dan ambil).

a.       Shigat jual beli
Dalam hal lafadz shigat ada perbedaan pendapat antara empat Imam mazhab:
·         Menurut Imam Hanafi, Siapa yang pertama mengucapkan ijab baik penjual maupun pembeli maka ketika itu juga telah terjadi akad. Lafadz shigat yang digunakan harus bermakna dengan kepemilikan.
·         Menurut Imam Syafi’i, lafadz shigat harus mengandung makna kepemilikan secara jelas (sharih).
·         Menurut Imam Maliki, lafadz shigat harus dengan tiap-tiap perkataan yang mengandung makna ikhlas.
·         Menurut Imam Hambali, lafadz shigat akad bisa dengan tiap-tiap lafadz yang membawahi kepada makna jual dan beli.[9]

b.      Orang yang melakukan akad
Menurut Imam Syafi’i, Maliki dan Hanbali:
-          Mumayyiz
-          Mukhtar (tidak dipaksa)[10]

E.     Akibat dari Jual Beli
Akibat dari jual beli:
1.      Terjadinya perpindahan barang.
2.      Penjual tidak mempunyai hak milik terhadap barang yang telah dijual.

F.     Manfaat Jual Beli
Manfaat dan hikmah jual beli antara lain:
1.      Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya,atas dasar kerelaan atau suka sama suka.
2.      Masing-masing pihak merasa puas,penjual melepas barang dengan ikhlas dan menerima uang,sedangkan pembeli menerima barang dan memberikan uang.
3.      Dapat menjauhkan diri dari memekan atau memilikin barang yang haram
4.      Penjual dan pembeli mendapat rahmat dari Allah SWT
5.      Menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Menurut arti bahasanya, jual beli adalah menukarkan sesuatu dengan sesuatu. Sedangkan menurut syara’ (istilah) jual beli adalah menukarkan harta dengan harta pada majelis tertentu.
1.      Rukun Jual Beli ada tiga (3), yaitu:
·         Menurut Imam Hanafi, rukun akad hanya ada satu yaitu Shigat  (Ijab dan Qabul). Siapa yang pertama mengucapkan ijab baik penjual maupun pembeli maka ketika itu juga telah terjadi akad. Lafadz shigat yang digunakan harus bermakna dengan kepemilikan.
·         Menurut Imam Syafi’i, Maliki dan Hanbali rukun akad ada 3, yaitu: Shigat  (Ijab dan Qabul);

2.      Syarat jual beli
a.       Syarat Ijab dan Qabul: Terdapat dalam satu majelis; Dilakukan dengan kesepakatan yang sama; Tidak tergantung pada suatu kejadian; Tidak di batasi oleh waktu.
b.      Syarat penjual dan pembeli, yaitu: Berakal; Dengan kehendak sendiri; Tidak mubazir; Baligh.
c.       Syarat benda dan uang, yaitu: Suci; Dapat diambil manfaat; Barang milik si penjual; Barang yang dijual harus diketahui oleh si penjual dan si pembeli; Barang itu dapat diserahkan.








DAFTAR PUSTAKA

Al Jazairi, Abdul Rahman. 2004.  Al Fiqhu ‘alal mazahib arba’, juz as-sani. Darul Hadits.

As’ad, Aliy. 1979. Fathul Mu’in. Yogyakarta: Menara Kudus.

Rasjid, Sulaiman. 1994. Fiqh Islam (Hukum Fiqh Lengkap). Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Syafe’i, Rachmat. 2001.  FIQIH MUAMALAH.  Bandung: Pustaka Setia.




[1] Aliy As’ad, Fathul Mu’in, Yogyakarta: Menara Kudus, 1979, hl. 158.
[2] Abdul Rahman Al Jazairi,  Al Fiqhu ‘alal mazahib arba’, juz as-sani, Darul Hadits, 2004, hl. 118-122.
[3]  Aliy As’ad, Fathul Mu’in, Yogyakarta: Menara Kudus, 1979, hl. 158-159
[4]  Aliy As’ad, Fathul Mu’in, hl. 159.
[5]  Ibid, hl 150
[6] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Hukum Fiqh Lengkap), Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1994, hal. 279.
[7] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, hal. 280-281.
[8] Rachmat Syafe’i, FIQIH MUAMALAH, Bandung: Pustaka Setia, 2001, hal. 116.
[9] Abdul Rahman Al Jazairi,  Al Fiqhu ‘alal mazahib arba’, juz as-sani, Darul Hadits, hl. 123-127.
[10] Ibid, hl. 128
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com